international schools in jakarta — Hakekatnya, cikal bakal pengajaran Islam diawali pada masa Khalifah Umar Ibn Khattab. Pada dikala pemerintahannya, secara khusus Umar mengirimkan petugas khusus ke beraneka kawasan Islam untuk menjadi guru di tempat hal yang demikian. Para petugas khusus ini lazimnya beralamat di mesjid dan mengajari perihal Islam terhadap masyarakat, via halakah-halakah majelis khusus untuk menpelajari agama. Majelis ini terbuka untuk lazim.

Tetapi demikian, cikal bakal pengajaran Islam yang memakai metode pengajaran modern seperti kini ini merupakan madrasah-madrasah nizhamiyah. Kurikulumnya berkonsentrasi pada Alquran (membaca, menghapal, dan menulis), sastra Arab, sejarah Nabi SAW, dan berhitung. Cara pendidikannya menitikberatkan pada mazhab Syafi’i dan mengerti Asy’ariyah (aliran teologi yang mendapatkan argumen rasional, melainkan percaya penuh terhadap dalil-dalil wahyu—Red) yang berkembang dan dianut dikala itu.

Cara belajar yang diaplikasikan di madrasah nizhamiyah merupakan pendidik berdiri di depan ruang kelas menyampaikan materi-materi kuliah, sementara para pelajar (mahasiswa) duduk dan memperdengarkan penjelasan di atas meja-meja kecil (rendah) yang disediakan. Kemudian, pengerjaan belajar dilanjutkan dengan berbicara (tanya-jawab), antara dosen dan para mahasiswa mengenai materi yang dikenalkan dalam suasana motivasi keilmuan yang tinggi.

Dalam menjalankan aktivitas belajar mendidik, seorang energi pendidik di nizhamiyah senantiasa dibantu oleh dua orang mahasiswa (asistensi). Kedua orang mahasiswa inilah yang bertugas membaca dan menerang kan kembali kuliah yang sudah dikasih terhadap mahasiswa yang tertinggal.

Status energi pendidik (dosen) di madrasah hal yang demikian menurut pengangkatan dari khalifah dan bertugas dengan masa tertentu. Di antara nama-nama besar yang mengabdikan dirinya sebagai energi pendidik di madrasah nizhamiyah merupakan Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi (seorang fakih Baghdad), Syekh Abu Nasr as-Sabbagh, Abu Abdullah at-Tabari, Abu Muhammad asy-Syirazi, Abu Qasim al-Alawi, at-Tibrizi, al-Qazwini, al- Fairuz Kekal, Imam al-Haramain Abdul Ma’ali al-Juwaini, dan Imam al-Ghazali.

Nizam al-Mulk terus berupaya memaksimalkan institusi pengajaran ini pantas dengan tuntutan zaman. Dia mendirikan banyak madrasah nizhamiyah di beraneka daerah. Supaya pendidik dapat berpusat secara penuh mendidik para siswa, Nizam al- Mulk menentukan untuk memberi gaji tiap-tiap bulan bagi segala pendidik. Tetapi, kebijakan mengenai gaji ini belum dapat diterima oleh para pendidik di madrasah nizhamiyah. Para pendidik ini lebih menyenangi mendidik tanpa digaji, melainkan kesejahteraan hidup mereka terjamin. Bagi para dosen, gagasan untuk menggaji guru pada masa itu diamati sebagai suatu gagasan yang terlalu maju.

Malah, berdasarkan Charles Michael Stanton, madrasah nizhamiyah adalah perguruan Islam modern yang pertama di dunia. Sebab ini juga diakui oleh Nakosteen yang mengungkapkan, madrasah nizhamiyah sebagai Universitas Ilmu Pengetahuan Teologi Islam. Meskipun, madrasah nizhamiyah mengajari pengajaran yang lebih khusus dengan spesifikasi bidang teologi dan aturan Islam.

Bahkan demikian, kurikulum yang dipakai di madrasah nizhamiyah ini terdapat pula perimbangan yang proporsional antara disiplin ilmu keagamaan (tafsir, hadis, fikih, kalam, dan lainnya) dan disiplin ilmu aqliyah (filsafat, akal, matematika, kedokteran, dan lainnya). Malah, dikala itu, kurikulum nizhamiyah menjadi kurikulum acuan bagi lembaga pengajaran lainnya.

Kemudian, institusi pengajaran Islam ini makin berkembang pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun. Pada 815 M, al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah yang berfungsi sebagai perpustakaan, ruang kajian, dan observatorium (lab).

Pendidikan M Khoirul Anam, seorang pengamat pengajaran dalam tulisannya yang berjudul Melacak Paradigma Pengajaran Islam (Sebuah Upaya Menuju Pengajaran yang Memberdayakan) menceritakan, Baitul Hikmah belum bisa dikatakan sebagai sebuah lembaga pengajaran yang total.

Meskipun, metode pengajaran masih ala kadarnya dalam majelis-majelis kajian dan belum terdapat ‘kurikulum pengajaran’ yang dilegalkan di dalamnya. pengajaran Islam yang mulai menerapkan metode pengajaran ‘modern’ baru timbul pada akhir abad X M dengan didirikannya Perguruan (Universitas) al-Azhar di Kairo oleh Jendral Jauhar as-Sigli—seorang panglima perang dari Daulat Bani Fatimiyyah—pada tahun 972 M.

Sumber: http://www.ichthusschool.com/international-school-jakarta